Nilai Inti (Core Value) Sekolah

Nilai Inti Sekolah

  1. Kongregasi Suster Fransiskus Dina ( SFD )

Kongregasi Suster-suster Fransiskus Dongen (SFD) mulai terbentuk akibat Revolusi Prancis pada tahun 1789, semua biara dibubarkan secara paksa, hal itu merupakan tantangan baru bagi suster Konstansia van der Linden untuk mempertahankan hidup membiara “ Bagaimanapun hidup membiara harus tetap diteruskan “ demikianlah sebuah prinsip yang dimiliki oleh Muder Konstansia van der Linden, dengan semangat yang berkobar- kobar disertai dengan kepercayaan akan penyelenggaraan Ilahi Muder Konstasia bersama dengan tiga orang suster lain nya sepakat untuk memulai komunitas dan karya baru. Dalam memulai pembentukan komunitas dan karya baru ini, mereka mengalami banyak kesulitan, tetapi mereka selalu tekun berdoa, bekerja tanpa pamrih, selalu berdiskusi untuk mendapatkan solusi dari setiap kesulitan yang mereka hadapi. Demikianlah mereka menjalani setiap peristiwa hidup, hingga akhirnya komunitas dan karya baru berdiri kokoh, bukan hanya itu mereka juga mendirikan sebuah kongregasi yaitu Suster Fransiskus Dongen atau yang sering disebut dengan SFD. Para suster ini mengambil St Fransiskus Assisi sebagai pelindung kongregasi, sehingga spirit St Fransiskus Assisi ditetapkan sebagai pedoman hidup dalam komunitas, persaudaraan dan karya pelayanan. Setelah perjalanan panjang yang dialami oleh para suster, mereka mengutus beberapa suster misionaris menyebarkan sayap hingga ke tanah air Indonesia. Di Indonesia mereka mendirikan beberapa karya seperti: karya pastoral, kesehatan, sosial, dan pendidikan. Para suster misionaris juga menerima calon suster pribumi sehingga banyak putri-putri pribumi yang tertarik menjadi suster SFD. Seturut perkembangan zaman karya para suster semakin melebar salah satunya adalah sekolah SMP St Maria Kabanjahe di bawah naungan Yayasan Setia Medan.

  1. Santa Maria Pelindung Sekolah

SMP St Maria kabanjahe didirikan oleh suster SFD. Sebagai pengikut St Fransiskus Assisi para suster SFD meyakini bahwa St Maria adalah ibu semua orang beriman. St Fransiskus Assisi mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mencintai Bunda Maria dengan sepenuh hati. Dalam kisah nya St Fransiskus Assisi mengatakan bahwa Bunda Maria adalah ibu dari semua yang memperoleh kehidupan dalam Kristus. Kasih yang mendalam kepada Maria, bunda Kristus dan bunda rohani semua pengikut nya merupakan tanda khusus Ordo Fransiskan. Fransiskus memberi tekanan bagi seluruh pengikut nya untuk merenungkan dan merasakan kegembiraan dan tujuh sukacita Bunda Maria yaitu:

  • Maria diberi kabar oleh Malaikat Tuhan. Kegembiraan Maria muncul dari kerendahan hatinya yang mendalam. “Dia memperhatikan hambanya yang hina-dina”; “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.
  • Maria mengunjungi saudaranya Elisabet. Kegembiraan kasih Maria muncul dan karena itu dia bergegas untuk menolong Elisabet. Tak lama setelah memiliki Kristus, dia mulai membagikan dirinya dengan orang lain.
  • Maria melahirkan Yesus. Kegembiraan Maria akan Yang Ilahi yang kaya dari surga sekarang dimiliki oleh manusia yang miskin di dunia ini. Kegembiraan akan kemiskinan terletak dalam melihat di mana terletak kekayaan yang benar.
  • Tiga raja datang untuk menyembah Yesus. Kegembiraan Maria meluas hingga mencakup semua orang yang diangkat sebagai anak-anak oleh Allah.
  • Maria menemukan Yesus di dalam bait Allah. Maria akan mengalami kegembiraan menemukan Kristus lagi.
  • Yesus menampakkan diri kepada Maria dan rasul-rasul sesudah kebangkitan. Kegembiraan iman Maria ber tumbuh ketika imannya yang kuat di Kalvari diganjari.
  • Maria diangkat ke surga dan dimahkotai. Sukacita karena harapannya dipenuhi malah melampaui kerinduannya. “Yang mempunyai mata tak melihat, yang bertelinga tidak mendengar”.

Santa Maria mempunyai banyak keutamaan dalam hidupnya. Dalam injil Luk 1:38 kata Maria “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan jadilah padaku menurut perkataanmu itu ” pengakuan Maria dengan menerima kabar dari Malaikat Gabriel adalah bentuk dari kerendahan hati nya serta kepercayaan nya pada Allah. Maria mengatakan “ya” pada kehendak Allah. Dalam injil Luk 1: 39–45 dikisahkan bahwa Maria menempuh perjalanan panjang untuk mengunjungi saudaranya Elisabet, Maria ingin berbagi cinta kepada saudara nya, kunjungan hangat Maria membawa suka cita bagi Elisabet dan juga bagi anak yang ada dalam rahim nya. Dari pengakuan Elisabet atas kehadiran Maria menyatakan bahwa Maria adalah seorang yang sangat istimewa di hadapan Allah. Dalam kisah perjalanan hidup nya, Maria mengalami banyak pergulatan sejak ia menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung padahal dia sendiri belum bersuami, ini merupakan suatu aib bagi nya, dengan iman yang teguh Maria menjalani hidup nya penuh dengan rasa syukur. Kelahiran Yesus Kristus putranya hingga wafat Nya membawa sebuah pergulatan baru bagi Maria, ia mempunyai banyak persoalan dalam hidup hal itu merupakan sebuah pukulan besar bagi Maria. Bagi Maria semua persoalan hidupnya dia serahkan kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Maria mempunyai kerendahan hati, beriman teguh, tulus, bekerja tanpa pamrih dan selalu dipenuhi suka cita yang mendalam.

Seturut teladan St Fransiskus Assisi, Muder Konstansia Van Der Linden dan St Maria, sekolah SMP St Maria mengambil nilai utama dari ketiga tokoh tersebut yaitu Semangat, Fraternitas dan Dina. Menurut kamus KBBI Semangat adalah roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk, baik hidup maupun mati. Semangat merupakan perasaan yang sangat kuat yang dialami oleh setiap orang, dapat dilihat sebagai bagian fundamental dari suatu kegiatan sehingga sesuatu dapat ditujukan kepada pengarahan potensi yang menimbulkan, menghidupkan, menumbuhkan tingkat keinginan yang tinggi. Menurut KKBI Fraternitas adalah persahabatan yang sangat karib, seperti layaknya saudara atau pertalian persahabatan yang serupa dengan pertalian saudara. Fraternitas merupakan suatu rasa yang memiliki ikatan batin yang sangat erat, sehingga menciptakan sebuah rasa persaudaraan antara satu dengan yang lain nya. Menurut KKBI Dina adalah rendah lagi miskin. Dalam hal ini Dina merupakan suatu sikap yang mampu menerima segala sesuatu dengan tulus, lapang dada, rendah hati dan penuh syukur.

Facebook Comments Box