Budaya Lokal

Nilai

PALAS ADAT KARO
Lambang Cikepen dan Gelemen Si Lima
Gelemen Si Lima
Cikepen Si Lima
Previous
Next
  • Keutamaan dalam Nilai Cikepen Si Lima

       Cikepen silima adalah  pegangan hidup pada masyarakat Karo yang diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Ajaran ini  merupakan nasehat yang harus dipegang oleh seorang anak, artinya kemanapun berada harus selalu memegang teguh nilai dari Cikepen si lima. Cikepen si lima mempunyai lima nilai yang terdapat di dalamnya yaitu:

  • Tek Man Dibata

       Tek dalam Kamus Karo Indonesia diartikan sebagai percaya, mengakui kebenaran atau kejujuran: aku maka Dibata kap si meteh pate geluh manusia saya percaya bahwa Tuhan yang mengetahui hidup mati manusia. Betapa pintarnya betapa pandainya pun manusia melaksanakan pekerjaan nya, yang besar atau yang kecil, yang berat atau yang ringan, toh tidak boleh tidak, Tuhan juga yang menentukan hasilnya. Betapa bijak betapa cerdiknya betapa bagaimanapun dia berpikir, kalau namanya hidup ada saja akhirnya, utang harus dibayar, yang disebut "mati" itu. Orang yang hidup mau tak mau harus mati; dan "mati" itu berada dalam kekuasaan Tuhan. Harus kita ingat benar-benar bahwa dalam hidup ini Tuhan-lah Maha Pencipta; Tuhanlah yang mengatur segalanya; kekuasaan Tuhan adalah awal dan akhir. (FPBS-IKIP-BANDUNG 1994: 24)

       Sarjani (2011: 26) mengatakan bahwa masyarakat Karo pada zaman dahulu sudah memilki kepercayaan tentang Tuhan, dikatakan lagi bahwa pada saat itu masyarakat percaya akan hal-hal gaib, Tuhan yang diyakini pada saat itu adalah dibata sitelu (dibata datas, dibata tengah, dibata teruh). Dibata menurut kebanyakan orang-orang Karo tidak mengadakan komunikasi dengan manusia.  Dibata dilihat semacam cita-cita dan sebagai pelindung dan sebagai penjamin ketertiban alam. Kehendak Dibata telah tertuang didalam adat istiadat Karo. Jadi barang siapa yang mengemban adat berarti melakukan pujaan terhadap Dibata. Gereja dari dulu sampai sekarang menerima adat sebagai wadah kehidupan, pada pihak lain memang gereja selalu kritis terhadap dasar-dasar rohani yang melatar belakangi suatu sistem adat atau apabila adat itu tidak terlalu mengekang kehidupan. Dalam sejarah gereja juga menjadi nyata bahwa gereja berusaha mentransformasikan adat itu sehingga adat itu dapat membantu manusia.

       Sikap ini tetap akan menjadi sikap gereja–gereja reformasi. Nilai-nilai rohani yang rasional saja yang mungkin menjadi dasar adat agar ia dapat berfungsi dalam suasana modernisasi dan pembangunan bangsa, penerimaan nilai-nilai itu tidaklah selalu melalui pembabtisan di gereja, tetapi juga dapat melalui sumber-sumber yang tidak langsung. Dan tidak semua nilai-nilai alkitabiah itu akan diserap oleh adat Karo tertentu ada proses penolakan dan peningkatan. Transformasi adalah pembebasan manusia dari segala ikatan-ikatan, nilai-nilai, keyakinan yang membuat seseorang itu tidak kreatif, pandangan hidup yang tidak ilmiah, statis dan sebagainya yang pada hakekatnya adalah belenggu pada kemanusiaan. Begitu besarnya arti transformasi adat maka gereja dan badan keagamaan lainnya yang terdapat dalam masyarakat harus secara bersama-sama atau terpisah berusaha mentransformasikan masyarakat Karo (Sarjani, 2011 :105).

       Dengan demikian masyarakat Karo percaya kepada Tuhan lewat Agama masing-masing salah satunya Agama Kristen yang menerima adat sebagai wadah kehidupan masyarakat karo. karena gereja sudah mulai diterima oleh masyarakat maka agama pun juga mulai berani untuk memilih mana kira-kira kepercayaan yang masih sejalan dengan ajaran gereja dan mana yang tidak dengan gereja, agar umat lebih paham tentang bagaimana caranya percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini juga, orang Karo juga dapat disebut sebagai orang yang sangat menghargai Tuhan Kehamaten lewat setiap ritual yang mereka boleh persembahkan untuk Tuhan lewat proses adaptasi yang terjadi.

       Nilai Tek man Dibata juga terlihat dalam sistem Bahasa masyarakat karo salah satunya dalam anding-andingen yang mengatakan: Bagi seluk kisada, lalit si nulbasisa, antusena Ngataken guru menantu, permanen si la banci ertuah pe banci ibahanna kedabuhen tuah salu kinigurunna (Sarjani,2012:6). Yang berarti Seorang yang tidak memiliki pekerjaan tetapi memiliki banyak uang dengan menyembah berhala. Anding-andingen ini mengajarkan kepada kita untuk hanya percaya kepada Tuhan.

       Jadi, sistem kepercayaan masyarakat Karo sudah terlihat sejak zaman sebelum masuknya agama, masyarakat Karo sudah percaya akan adanya Tuhan dalam wujud roh.  Jadi dapat dikatakan bahwa nilai budaya yang sudah di anut masyarakat Karo pada saat itu adalah tek man Dibata.

  • Keteken

       Dalam kamus karo- bahasa Indonesia, Keteken berasal dari kata tek “percaya, mengakui kebenaran atau kejujuran” keteken “kepercayaan, orang yang dipercayai”. Kita percaya bahwa setiap pekerjaan yang kita lakukan dapat memberikan hasil untuk kehidupan, dapat memberikan kasih sayang, memberikan kebanggaan, pendeknya memberi jaminan hidup. Hasil dari pekerjaan menjadi kekuatan kita dalam hidup ini. Dalam budaya Karo, wujud keteken dapat dilihat salah satu peribahasa Karo (anding-andingen) “Balik-baliken bagi silan sarimunte, antusena Nina turin-turina, katak puru lau makam rusur ngarapkan lau mbelin. Galang kenca denggo lau masap merutuku enda atena.Reh lau galang rutuna  la kap masap.Sekali nari bencara galqng lau uga pe masap nge rutuku enda atena ka.Bageme rusur, piga-piga nembaslau makam galangrutuna lalap la masap ngayak ia mate.Ikatakrn kempak kalak siperbahan zaman ia sambar akapna ma kinigeluhenna ia reh nahangna. Tapi  rehpe jaman piga-piga kali kumalih, ua tetap ge mberat (Sarjani,2012:54). Peribahasa di atas mengingatkan kita bahwa dalam budaya karo sangat dilestarikan sikap yang tetap memiliki  Pengharapan yang terus menerus,sekalipun kebaikan tak kunjung datang sehingga menunjukkan sikap “Erpengarapen.”  Dalam hal ini diajarkan bahwa kita sebaiknya selalu menunjukkan sikap keteken.

  • Kehamaten

       Kehamaten dapat diartikan kita harus sopan santun berbicara, rendah hati terhadap orang yang telah tua, yang kecil, baik yang dekat, maupun yang jauh, sekalipun belum kita kenal Hati dan pikiran kita haruslah bersih agar kita mendapat kepercayaan dari orang banyak. Nilai kehamaten dapat juga dilihat di sistem kepercayaan, hal ini karena dalam sistem kepercayaan orang karo sangat menghargai tuhan, dapat dilihat dari setiap ritual yang mereka lakukan untuk menyembah tuhan. Nilai kehamaten juga dapat dilihat dari sistem hubungan Sosial, hal ini karena dari sistem ini mengatur tentang tatanan sosial dalam masyarakat, seperti (merga silima, tutur siwaluh, rakut Sitelu, dan perkade-kaden sepuluh dua). Nilai kehamaten juga dapat dilihat dari sistem bahasa, hal tersebut dapat dijelaskan dari kebiasaan masyarakat karo yang selalu memberikan perumpamaan untuk menasihati sesama(misal: Bagi pertandang patabu,jumpa la erbeteh sirang la erkuan). Nilai kehamaten juga dapat dilihat dari sistem kesenian, hal ini dapat dijelaskan dari tarian karo seperti dalam gerak tari, pakaian adat yang digunakan sopan saat menari dan juga kehamaten kepada pemain musik Karo yang disebut “penggual” yang posisi duduknya setara “kalimbubu” yaitu duduk di “amak mentar” (tikar  putih). Nilai kehamaten juga dapat dilihat dari sistem organisasi dan kemasyarakatan, hal ini dapat dijelaskan melalui acara adat yang sudah sering di lakukan oleh orang karo, (misal: Ngembah Belo Selambar, Nganting Manuk, dan Mata Kerja)

 

  • Megenggeng

       Megenggeng dalam kamus Karo Indonesia diartikan sebagai kuat menahankan dan  tidak putus asa. Megenggeng berarti kita harus sabar, tahan menerima serta menahan hal-hal yang sukar, yang berat, ataupun kerugian, sekalipun sudah berat menanggung nya, agar  memperoleh perubahan kelak di masa mendatang, untuk mengubah sikap kita agar memperoleh keuntungan yang diidamkan. Ibarat orang berdagang atau berjualan biar rugi pada bulan ini, tetapi belum tentu rugi pada bulan depan, mungkin saja kita memperoleh keuntungan dan kegembiraan. Nilai megenggeng ini dapat dilihat pada sistem kesenian Karo yang ditunjukkan melalui tari drama yang melukiskan kepahitan dan kepajahan seorang  pelandja sira (pemikul garam).

       Nilai megenggeng juga terlihat pada sistem bahasa masyarakat, salah satunya dalam   anding-andingen karo , yaitu “Labo lit rahu la erduruh,  nangka la erpulut, antusena: ikataken kempak kalak si tutus kel atena erdahin. Pagi-pagi lampas kujuma, ikur babi pe lenga teridah, karaben pe’kenca gelap maka kurumah, ikur babi lanai ka teridah (Sarjani,2012:102). Yang berarti seorang yang tulus bekerja, ekor babi pun belum tampak karena masih gelap,dia sudah keladang. Selain itu dapat juga dilihat dari turi-turin orang karo dalam cerita “Asal Mula Tembe Taneh Enda Megenggeng”,  yang  menggambarkan seorang anak yang yang selalu berusaha dan pantang menyerah meskipun mengalami kegagalan tetapi selalu berusaha dan pada akhirnya berhasil.

  • Metenget

       Metenget dalam kamus bahasa daerah karo adalah berhati-hati, selalu waspada, senantiasa awas. Memang dalam hidup ini kita semua haruslah cermat dan hati-hati. Perkataan yang kita dengar haruslah terlebih dahulu kita pikirkan baik-baik, kita pertimbangkan kita renungkan secara cermat. Kalau kita telah yakin bahwa hal ini memang baik, barulah kita jalankan. Dalam hidup ini memang perlu hati-hat jangan sembrono, agar kita memperoleh yang kita inginkan, rukun dan damai dalam keluarga kita.(tarigan 1990 :12-13). Demikian juga nasihat yang diberikan orang tua kepada anak nya yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari- hari. Selain nilai ini mereka juga harus menghidupi nilai- nilai yang ada di dalam budaya setempat.

       Metenget bisa dilihat dari sistem kepercayaan serta ada juga nilai budayanya yaitu metenget  yang mana dijelaskan masyarakat karo juga sangat cermat dalam melihat agama baru yang masuk ke suku maupun budaya mereka, karena rasa kepercayaan yang sudah mereka anut dan sudah mereka jalani sejak dari dulu apakah masih bisa mereka lakukan jika sudah menerima agama baru ini atau tidak, namun seiring berjalannya waktu akhirnya masyarakat karo mau menerima agama tersebut, dikarenakan gereja pun juga melihat bahwa kepercayaan mereka ini juga termasuk kedalam suatu kepercayaan kepada tuhan.

       Nilai metenget dapat dilihat juga disistem bahasa, metenget atau cermat dan teliti sudah dibudayakan di dalam sistem ini, karena masyarakat karo sudah menerapkan dalam bentuk-bentuk kesusastraan dan kegiatan-kegiatan budaya lainnya. Dalam hal ini dapat ditunjukan ketika masyarakat karo ertutur atau berkomunikasi dengan seseorang yang baru pertama kali bertemu. Mereka akan ertutur dengan menggunakan bahasa yang sopan dan santun serta metenget dalam memilih kata dalam berbicara. Bisa dambil juga salah satunya dalam andingen-andinen dan turin-turin masyarakat Karo, seperti Bagi sarune buntu. Dosa pekena maka reh cedana., antusena i kataken kempak kalak siarah kuit-kuitna reh sunangelna,umpama kalak sinipu petutangenna sibiasa nampati  ia.ngilas akap sitertipue, itunggana kerina idona, lanai ia ngit nampatisa (sarjani, 2012:55). Yang berarti menyusahkan diri sendiri karena perbuatanya yang menunjukkan sikap metenget. Dalam hal ini diajarkan bahwa kita sebaiknya selalu menunjukkan sikap metenget. Beluh beluh mahat sukut sekin, adi la ermbalo labo enteguh., antusena andinggena, kuga beliganna pe sekalak encari, adi langa ia njabuken bana, pencarian la banci leket, labanci tangkel kumintak (sarjani,2012:6). Yang berarti sepandai pandainya seseorang bekerja tetapi belum menikah tidak bakal bisa menyimpan hasil pekerjaannya tersebut. Dalam hal ini diajarkan bahwa kita sebaiknya selalu menunjukkan sikap metenget. Begitu juga dengan turi-turin, berdasarkan kisah cerita Sibetah-betah diharapkan pentingnya kita untuk bersikap metenget. Hal ini diceritakan karena kita harus waspada dengan orang di sekitar kita.

       Demikianlah nasihat yang diberikan orang tua kepada anaknya yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Selain nilai ini mereka juga harus menghidupi nilai- nilai yang ada di dalam budaya setempat.

  • Keutamaan dalam Nilai Gelemen Si Lima

       Gelemen si lima adalah pegangan hidup pada masyarakat karo yang diajarkan oleh orang tua ke pada anak- anaknya. Ajaran ini berupa nasehat yang harus digenggam yang artinya selalu ada dalam jiwa dan perbuatan oleh anak. Gelemen si lima mempunyai lima nilai yang terdapat di dalam nya yaitu:

  • Bujur

       Bujur dalam kamus Bahasa Karo-Indonesia adalah jujur, tulus hati, adil dan pantas. Seseorang dikatakan bujur jika perkataan dan tindakannya sesuai dengan kebenaran yang terjadi seperti yang tertulis dalam buku Antusen Bilangan ibas Kalak Karo “Berani karena Benar, Takut karena Salah” yang berarti berani melakukan hal-hal atau pekerjaan yang baik, berani meminta maaf mengakui kesalahan kalau memang salah (Hendri Guntur Tarigan:1994). Di dalam sistem bahasa menurut Koenjoroningrat, tertulis anding-andingen Bagi batang sengseng, baun geluh-geluhna asang patepate na” (Sarjani, 2012:62) yang berarti seseorang yang bisa dipercayai yang menunjukkan sikap la perbual. Dalam hal ini diajarkan bahwa kita sebaiknya selalu menunjukkan sikap bujur dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keadaan apapun dan di manapun.

  • Nggit nampati

       Menurut kamus besar Bahasa Karo, git diartikan sebagai mau, hendak suka, dan ingin. Nggit menjadi mau, menjadi suka, menjadi ingin, nampati diartikan membantu, menolong. Maka Nggit nampati adalah mau menolong, atau suka menolong, hal ini menjadikan seseorang menjadi ingin menolong. Berdasarkan tujuh unsur budaya menurut Koentjaraninggrat yaitu dalam usur hubungan sosial masyarakat, didapatkan sebuah keutamaan “kehamaten”. Dalam keutamaan ini terkandung ‘Nggit nampati” seperti kalimbubu, sebagai Dibata ni idah, senina/sembuyak, merupakan kelompok yang mempunyai marga yang sama,  Anak beru, sebagai pelayan dalam acara adat, hubungan ketiganya ini disebut Rakut si telu. Dalam acara peradaten atau acara adat kalimbubu berperan sebagai tuan yang dilayani, senina berperan sebagai tuan rumah sedangkan anak beru berperan sebagai pelayan untuk melayani kalimbubu dan tuan rumah. Semua masyarakat Karo akan menerima peran sebagai rakut si telu, yaitu ada saat nya menjadi kalimbubu, senina, dan anak beru. Maka dalam peran ini terjalin hubungan timbal balik yang akan melakukan keutamaan “nggit nampati “ yaitu mau menolong antara satu dengan yang lain nya.

       Henry Guntur  Tarigan ( 1994: 141 ) mengatakan bahwa dalam hidup ini kita harus mau menolong". Hidup adalah memben" dan menerima": hidup adalah saling menolong jauh lebih enak dan lebih bangga menolong daripada "ditolong". Setiap orang akan merasa senang dan bangga kalau dapat memberi "pertolongan kepada orang lain. Sifat "suka menolong ini tercermin dalam "serayan" au "ngripe" dalam masyarakat Karo. Kalau misal nya ladang seseorang masih terbengkalai belum siap digarap karena sesuatu na maka orang kampung mengadakan serayan" atau gotong royong. kerja-bakti untuk menyelesaikannya. Begitu pula kalau dalam suatu pesta adat si pemilik pesta kurang biaya, maka orang kampung ngeripe" atau memberi bantuan suka-rela untuk mencukupi biaya tersebut.

  • Merawa Ibas Bujur " Berani karena Benar"

       Merawa ibas bujur berasal dari Bahasa Karo yang terdiri dari tiga kata, yakni merawa, ibas, dan bujur. Dalam Kamus Bahasa Karo, merawa yang berarti berani, tidak takut; ibas berarti kepada, di dalam; dan bujur artinya jujur, tulus hati, adil, pantas. Jadi, merawa ibas bujur adalah berani berbuat di dalam kejujuran atau keadilan. Henry Guntur Tarigan (1994: 141) dalam Antusen Bilangan ibas Kalak Karo menyatakan bahwa merawa ibas bujur merupakan tidak takut berbuat kalau kita jujur bahkan kalau perlu, nyawa pun dipertaruhkan. Jangan mau menipu, jangan mau ditipu atau dalam bahasa Karo ola nggit nokoh, ola nggit itokohi. Lebih baik mati daripada ditokoh orang, buat apa hidup kalau diinjak-injak orang. Ingat benar-benar kalau kita tidak sudi "ditokoh orang, maka orang lain pun tak sudi kita "tokohi" ; jadi janganlah"nokoh".

       Merawa ibas bujur sudah terdapat dalam cerita rakyat Karo seperti “Misteri Janggak Penolong dari Karo”. Dalam cerita ini ditunjukkan dalam istilah perpang yang berarti berani, warga desa memberanikan diri membuka bungkusan yang dititipkan oleh jangak karena isinya yang sudah semakin berat dan mencurigakan. Sikap ini merupakan kebiasaan dalam budaya karo  untuk melakukan suatu tindakan.

  • Ola Relem-relem

       Dalam Kamus Bahasa Karo, ola atau ula artinya jangan, tidak; elem yang berarti dendam. relem-elem yang berarti mendemdam. Jadi, ola relem-elem adalah sikap tidak mendendam atas perilaku tidak baik yang diterima. Henry Guntur Tarigan (1994: 141-142) menyatakan bahwa kalau kita menuruti perasaan maka tentu saja kita menaruh dendam terhadap orang yang berlaku tidak senonoh atau la bujur" kepada kita. Memang itu wajar. Akan tetapi apa gunanya "menanam luka di hati", bukan? Oleh sebab itu, tidak ada gunanya "relem-elem" menyimpan dendam di dada. Lebih baik terus terang saja, katakan sebenarnya harus berani dalam benar atau merawa ibas bujur dalam hidup ini.

       Ola relem-elem dalam masyarakat karo digambarkan seperti yang terdapat pada anding-andingen Karo salah satunya “Bagi terbangun, icaleng reh burna, antusena Nipe bengkala-bengkala nggit icikep tapi adi merawa kenca minter mantuk. Ikataken man kalak si la megogo, tapi adai ikuit gelutna kesahna pe la atena keleng.  (pantuk = patuk) (Sarjani, 2012:77) artinya seperti ular monyet lemah lembut tapi marah ular monyet mau dirangkul tapi kalau marah terus dipatuk diberitahukan kepada orang yg baik hati kalau Ada permasalahnya dia tidak sayang dengan hidup nya yang menunjukkan sikap mehantu (galak).

 

  • Saber Ibas Nggeluh "Sabar dalam Hidup"

       Saber ibas nggeluh dalam kamus bahasa karo-Indonesia “sabar dalam hidup”. Hidup harus sabar dan tabah; sanggup menanggung segala hal dalam kehidupan ini, rajin bekerja tabah berjuang dalam kehidupan, tidak usah mengharapkan pertolongan dari masyarakat sekeliling. Hidup harus ada rasa malu, kalau orang lain mampu, mengapa kita tidak mampu; berjuanglah sekuat tenaga sekuat daya. Semboyan yang berkaitan dengan ini dalam bahasa dan masyarakat Karo adalah nggeluh singgusgus-nggusgus' tiwenna yang bermakna kalamiah hidup adalah menggosok lutut sendiri-sendiri dan makna kiasannya "nggeluh ermalu-malu" atau "hidup harus disertai harga diri". Dalam budaya karo, ada peribahasa (anding-andingen) “Tading arah lebe, antusena pe ningen: tading arah pudi banci ayaki, tading arah lebe kuja kiamken. Antusenna, jelma si leben ngenakenca pudin rasil, ntah ia mambal-ambal ban jelma si arah pudina. Umpamana sekali lampas nungkuni kalak singuda- (Sarjani,2012:9). Yang berarti seseorang yang pertama mengerjakan dan tidak mendapatkan hasil, lalu terapung-apung diakhirnya, sama seperti seseorang yang pertama melamar seorang perempuan tetapi orang yang belakangan melamarnya dan menikahinya. yang menunjukkan sikap la terayaki (tidak tercapai sesuai rencana).  Dengan demikian Masyarakat Karo setiap menghadapi masalah selalu menanamkan budaya saber ibas nggeluh.

       Demikianlah nasihat yang diberikan orang tua kepada anak nya yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari- hari. Selain dari pada nasehat orang tua ini mereka juga harus menghidupi nilai – nilai yang ada dalam budaya setempat. Kalau kita menuruti perasaan maka tentu saja kita menaruh dendam terhadap orang yang berlaku tidak senonoh atau la bujur" kepada kita. Memang itu wajar. Akan tetapi apa gunanya "menanam luka di hati", bukan? Oleh sebab itu, tidak ada gunanya "relem-elem" menyimpan dendam di dada. Lebih baik terus terang saja, katakan sebenarnya harus berani dalam benar atau mera ibas bujur dalam hidup ini. Demikianlah nasihat yang diberikan orang tua kepada anak nya yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari- hari. Selain dari pada nasehat orang tua ini mereka juga harus menghidupi nilai – nilai yang ada dalam budaya setempat.

Facebook Comments Box